kali ini saya akan mencoba menulis topik yang sedikit berat yaitu tentang dunia pendidikan di Indonesia tercinta ini.
dalam beberapa bulan terakhir ini hiruk pikuk ujian nasional dan antek-anteknya seakan mewarnai dunia siswa-siswi tingkat SMA terutama yang duduk di tingkat 12. tidak hanya itu, kesibukan ujian masuk universitas juga mengisi hari-hari mereka. berbagai jalur masuk universitas yang jumlahnya puluhan cukup membuat bingung para siswa.
ditengah-tengah euforia itu muncul sebuah polemik yang bisa dikatakan masalah lawas yang turun temurun selalu menjamur. polemik itu muncul dengan istilah saling mencaplok lahan jurusan universitas. seperti yang kita ketahui, banyak sekali siswayang memasuki jurusan di universitas tidak sesuai dengan jurusan yang ditempuh di SMA. ipa ke ips, ips ke ipa, ipa ke bahasa, dan lain sebagainya. tapi yang terjadi dewasa ini lebih banyak ipa yang beralih jurusan ke ips atau bahasa. sebenarnya tidak ada yang salah dengan hal tersebut, bahkan terbilang lumrah. tapi dalam kenyataannya keadaan itu menimbulkan sinisme dari pihak yang merasa lahan jurusannya 'dicaplok' oleh pihak dari jurusan lain. bahkan yang terbaru, banyak sekali siswa yang dianggap expert dalam jurusan ipa pun akhirnya mengambil jurusan favorit ips dan bahasa. jurusan yang biasanya dimbil adalah akuntansi, manajemen, sastra inggris, dll. sedangkan siswa yang dianggap biasa2 saja di bidang ipa malah berani mengambil berbagai resiko dan memperjuangkan untuk mendapat jurusan ipa di universitas. hal ini semakin membuat keadaan menjadi lebih runcing. sinisme yang mulai mereda muncul kembali dan semakin panas.
pemecahannya adalah kembali kepada diri kita masing2 bagaimana menyikapi hal ini dengan bijaksana tanpa harus menyakiti kedua belah pihak. kita masing2 memiliki hak untuk bersuara dan berpendapat maupun hak untuk memilih jalan hidup.
selain itu, pemerintah juga harus menginterospeksi diri. secara langsung atau tidak langsung, fenomena ini telah menjadikan mental generasi muda kita menjadi lebih sempit. keadaan ini memberi keleluasaan siswa untuk hanya memikirkan ego dan ambisi masing2. hal ini juga sudah mengurangi rasa kebersamaan antar siswa yang seharusnya dapat dicegah. selama ini pemerintah mendengung-dengungkan pola pendidikan internasional dengan berkiblat pada pendidikan negara2 maju. namun, dalam pelaksanaannya pemerintah hanya melakukan dengan setengah2. jika memang pemerintah berniat untuk meniru pendidikan negara maju, mengapa tidak sekalian saja pola penjurusan seperti sekarang ini dihapuskan saja. lalu diganti pola pemilihan mata pelajaran sesuai dengan minat dan bakat siswa yang dimulai dari usia dini. dengan demikian polemik saling mencaplok jurusan universitas tidak akan terjadi lagi..
kepada teman2 sekalian harap dimengerti, dalam saya menulis ini no offense untuk teman2 yang berniat mengambil IPC. saya hanya tidak ingin kita terjerumus dalam mental sempit dan saling menjatuhkan akibat sistem pendidikan indonesia yang carut marut. sekali lagi mohon maaf jika ada kata yang kurang berkenan. no offense for everyone.



0 komentar:
Posting Komentar